Senin, 10 Desember 2012

Ketika suami ego untuk dirinya....




 
Apakah engkau sebagai tempat yang tenang bagi suamimu? Dia merasa tenang untuk datang kepada engkau setelah pergi dan berpisah, penat, capek dan lelah? Atau engkau menghindarkan diri untuk menemaninya, dan sangat berat bagimu untuk ikut menanggung kegalauan perasaannya?
Sesungguhnya keberadaanmu sebagai tempat yang tenang bagi suami, mengingatkan engkau agar bisa sebagai tempat istirahat baginya dalam segala sisi; menebarkan ketenangan di rumah, menyiapkan makanannya dan membersihkan rumahnya, sehingga dia tidaklah mendengarkan kecuali kebaikan. Dan matanya tidak melihat pada dirimu kecuali kebaikan.

Jika engkau menginginkan suami yang bisa menyejukkan matamu, maka jadilah penyejuk mata baginya. ‘Abdullah bin Ja’far berwasiat kepada putrinya pada hari pernikahannya, “Hindarilah olehmu sifat cemburu, karena merupakan kunci terjadinya perceraian. Jauhilah olehmu banyak mencela, karena akan menyebabkan kebencian.






Seorang ibu menasehati putrinya pada malam pernikahan, dia berkata, “Kamu wajib untuk qona’ah, mendengar dan taat, menjaga diri dan tenang. Jagalah kecintaan. peliharalah harta benda. Bantulah pekerjaannya. Kerjakan apa yang menyenangkannya. Simpanlah rahasianya. Jangan menentang perintahnya. Tutuplah cela dan sakunya. Cintailah dia ketika sudah tua. Jagalah lisanmu. Pilihlah tetanggamu. Dan kokohlah didalam keimananmu.”


Lalu di manakah engkau wahai wanita yang mulia dari wasiat-wasiat berharga ini untuk dipersembahkan kepada seorang suami yang disabdakan oleh Rosulullah,



“Dia adalah surga dan nerakamu.”






Maka tidak sepantasnya bagi seorang istri untuk tertawa di hadapan suaminya ketika dia dalam keadaan marah. Dan tidak sepantasnya bagi seorang istri tatkala suaminya marah, dia tinggalkan dan tidak berusaha untuk menjadikannya ridha. Karena hal ini akan semakin menambah kemarahan suami.

Betapa banyak istri yang mempunyai tempat tersendiri di dalam hati suaminya karena dia selalu berusaha untuk mencintainya dan membuatnya ridha, sampaipun tatkala sang suami marah kepadanya dalam keadaan dia yang salah terhadap hak istrinya. Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang wanita-wanita kalian yang berada di surga? Yang penyayang, banyak anak dan banyak meminta maaf; yaitu wanita yang tatkala dizhalimi (oleh suaminya) mengatakan, ‘Ini tanganku berada di tanganmu, aku tidak akan merasakan ketenangan hingga engkau ridha’.”




Dan istri harus tahu bahwa membantu suami adalah wajib baginya. Wajib baginya untuk menaati suami dalam perkara yang halal. Adapun dalam perkara yang harom, maka tidak boleh menaatinya. Karena itu wajib baginya untuk mengerjakan apa yang dibutuhkan oleh suami dirumahnya, tunduk kepadanya dan tidak sombong.

Istri sholihah adalah yang mengetahui tentang agungnya kedudukan suami; dan besarnya hak suami atasnya. Maka dia akan berusaha keras untuk memberikan ketenangan dan kebahagiaan kepadanya.

Seorang istri hendaknya merenungkan sabda Rosulullah,

“Seandainya aku (boleh) memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.”

Maka wajib bagi istri untuk melayani suami dengan baik, menjaga rahasianya dan memelihara hartanya, karena dia adalah orang yang diamanati. Jangan sampai membuka tirainya kepada selain suami.

Melembutkan hati anak-anak atasnya. Menghindari sikap keras dan kasar. Jika suami memberikan bantuan atau hadiah -misalnya-, maka berterimakasihlah atas perbuatannya dan memujinya dengan baik.




Jangan mencela apa yang dia berikan dan jangan mencaci apa yang dia kerjakan untuk istri dan anak-anaknya. Istri harus mencari tempat-tempat yang bisa menjadikan suami ridha, kemudian bergegas mengerjakannya.

Temanilah suami di dunia dengan cara yang baik. Kerjakan apa yang disukai suami -meski dia tidak menyukainya-, dan tinggalkanlah apa yang tidak disukai suami -meski dia menyukainya- karena mengharap pahala dari Alloh, dan sadar bahwa suami adalah tamu yang sedang singgah di tempatnya dan hampir pergi meninggalkannya, maka janganlah disakiti baik dengan ucapan maupun perbuatan. Rosulullah bersabda,

“Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia, kecuali istrinya dari bidadari berkata, ‘Jangan sakiti dia -semoga Alloh mencelakakan kamu-. Dia di sisimu hanyalah sekedar singgah, sebentar lagi akan meninggalkanmu menuju kami’.”

Ketahuilah bahwa wanita yang paling utama adalah yang selalu menganggap besar apa yang dilakukan oleh suaminya, meski perkara yang kecil.

Memuji di hadapan orang lain dengan kebaikan meski suami penuh dengan kekurangan. Dia percaya bahwa semua itu akan berakibat baik baginya. Dan akan menjadi pendorong bagi suaminya pada suatu hari nanti untuk merasakan kecintaan dan kasih sayang istri kepadanya.




Hendaklah bersih hatinya terhadap suaminya. Jika dia kurang di dalam memenuhi haknya, maka hendaklah dia pandai-pandai untuk menyampaikan hal tersebut dengan satu cara atau lainnya, tanpa menyakiti atau mencelanya, dengan mencari waktu yang tepat yang ketika itu pikiran suami sedang jernih dan lapang dada.

Demikian ketika keegoan suami merasuk pada dirinya, mungkin akan menjadi bahan perdebatan panjang buat para istri. Padahal kata seorang istripun kan menjadi yang diharapkan, jika para suami telah melakukankan kewajiban dengan sempurna sebagai pemimpin dalam rumah tangganya.

Wahai sahabat....mohon maaf jika memang tulisan ini kan menjadikan beban buat yang melakukannya. Ini semua  hanya sebagai ungkapan kejujuran hati yang tidak menjadikan sebagai keharusan, jika memang dalam situasi dan kondisi yang tidak mungkin dilakukan, tinggal kita serahkan saja kepada sang pemilik aturan hidup manusia, sang Maha Mengetahui....yakni Allah SWT. Hanya kitapun harus siap menghadapi resiko apapun yang kan terjadi setiap apa yang kita perbuat, dengan penuh kesabaran dan tetap selalu introspeksi pada diri, agar semua kan menjadi baik diakhir....khusnulkhotimah....Semoga
amin.......





Akhirnya....
Kita memohon kepada Alloh agar menegakkan rumah-rumah kita di atas kebahagiaan. Dan kita memohon kepada Alloh agar menjadikan apa yang kita ucapkan ikhlas karena wajah-Nya Yang Mulia.

Sampai jumpa lagi di catatan kecil lainnya......salaaaamm...... !!







[Dinukil dari Kitab HARMONIS, Idaman Setiap Keluarga; Asy- Syaikh Salim Al-’Ajmi; Pustaka Salafiyah]




Minggu, 22 Juli 2012

Akankah berkah "Lailatul Qadar" kita raih....?





Diantara malam-malam Ramadhan terdapat satu malam yang disebut Lailatul Qadar, malam yang penuh keberkahan, rahmat dan ampunan. Di dalam Al-Qur'an dikatakan bahwa malam ini lebih baik dari pada seribu bulan, sama dengan 83 tahun 4 bulan.
Sungguh beruntung orang yang memperoleh kesempatan beribadah pada malam itu.
Lailatul Qadar adalah malam yang amat agung, karena dipilih Allah sebagai malam permulaan "Nuzul Qur'an" atau permulaan melimpahkan cahaya agama Allah ke seluruh alam, di samping melimpahkan kesejahteraan dan kedamaian yang memancar dari hidayah Allah (Al-Qur'an) ke atas hati dan kehidupan manusia.


Firman Allah dalam surat Ad Dukhan ayat 3-5, yang artinya:


Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada suatu malam, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang  penuh hikmah, yaitu urusan yang besar di sisi Kami (QS    Al-Dukhan [44]: 3-5).


Photobucket


Malam tersebut terjadi pada bulan Ramadhan, karena kitab suci menginformasikan bahwa Ia diturunkan Allah pada bulan Ramadhan (QS.Al-Baqarah [2]:185), serta pada malam Al-Qadar (QS.Al-Qadr [97]: 1-5)


Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Rasulallah bersabda, yang artinya:

"Barang siapa yang melakukan ibadat pada Lailatul Qadar karena didorong keimanan dan harapan mendapatkan pahala dari Allah, niscaya diampunkan segala dosanya yang telah lalu". (HR.Bukhari Muslim)  





Jika Lailatur Qadar datang setiap tahun, maka sudah tentu ada tanda-tanda kedatangannya. Oleh karena Lailatul Qadar itu sesuatu yang abstrak, spiritual dan rohaniah. Maka terdapat berbagai pendapat mengenai cara kedatangannya atau cara seseorang itu memperoleh Lailatul Qadar. Tidak sedikit dari cerita-cerita itu bersifat mitologi, yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, tidak masuk akal dan mengada-ada.

Ada cerita kalau Lailatul Qadar turun, maka air sungai berhenti mengalir, tumbuh-tumbuhan tunduk tenang, alam raya terlihat cerah, bintang-bintang bersinar dan sebagainya. Mungkin semua itu pernah terjadi terutama di wilayah geografinya memungkinkan: seperti air membeku, tetapi tidak ada kaitannya dengan Lailatul Qadar. Jadi peristiwanya bisa saja hanya kebetulan.




Hakikat bagaimanakah Al-Qur'an berbicara soal tanda-tanda Lailatul Qadar..?

Dalam surah Al Qadr [97] ayat terakhir, Allah menyebut tanda-tandanya: "Salaamun hiya hatta matlail fajr"- "kedamaian atau kenikmatan hakiki (terjadi) pada malam itu hingga terbit fajar". Jadi jelas bahwa tandanya tidak bersifat lahiriah, karena kedamaian itu adalah sesuatu yang dapat dirasakan. Maka barang siapa yang mendapatkan Lailatul Qadar, dia akan merasakan kedamaian atau ketenangan yang luar biasa dalam dirinya pada malam itu hingga terbit fajar.

Itu sebabnya dalam surah Ad Dukhan [44] ayat 3.
Pertama, Lailatul Qadar disebut sebagai Laylatun Mubaarakah, karena kedamaian hati yang bersumber langsung dari Allah adalah berkah yang paling tinggi. Ia bagaikan air sejuk bagi seorang musafir yang kehausan.





 


Yang kedua, Al-Qur'an adalah sumber pengetahuan tertinggi, oleh karena itu kebenaran tidak diragukan. Ia hanya dapat dicapai oleh derajat keintelektualan yang paling tinggi, intelek kenabian. Maka kalau kita bisa mendapatkan percikan (saja) pada malam Lailatul Qadar, berarti berkah itu adalah kenikmatan dan sekaligus berkah yang paling tinggi.

Rasulullah Salawlahu'alaihi Wassalaam bersabda, yang artinya: "Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir, pada malam ganjil". (Riwayat Bukhari dan  Muslim).

Tapi, jika kita benar-benar berkeinginan mendapatkan Lailatul Qadar, kita sebaiknya harus melakukan "Qiam Ramadhan". Yaitu menghidupkan sepanjang masa bulan Ramadhan, siang dan malam dengan taklim (belajar), ibadah, zikir, sholat sunah dan qira'ah (tadarus dan tela'ah) Al-Qur'an; memusatkan seluruh pintu indra yang memungkinkan dosa dan pikiran-pikiran buruk hinggap di hati kita.






Ciri-ciri orang yang mendapat Lailaul Qadar atas petunjuk Al-Qur'an:

  • "Yaitu mereka yang beriman kepada ghaib , mendirikan sholat dan menginfakkan sebahagiaan rezeki yang Kami berikan kepada mereka; dan mereka yang beriman kepada apa-apa yang kami turunkan kepadamu (Muhammad) dan apa-apa yang Kami turunkan sebelum kamu, serta mereka yakin kepada (adanya) kehidupan akhirat". (Al-Baqarah [2]: 2-4)
  •  "Yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah, hari kemudian, Malaikat-Malaikat, Kitab-Kitab, Nabi-Nabi dan memberi harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, anak jalanan (termasuk musafir yang memerlukan pertolongan), orang-orang yang meminta-minta,  (menghilangkan) perbudakkan, mendirikan sholat, menunaikan zakat, menepati janjinya apabila berjanji dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan saat ditimpa musibah...." (Al-Baqarah [2]: 177)
  •  "Yaitu orang-orang yang menginfakkan (hartanya di jalan Allah), baik diwaktu lapang maupun sempit; Orang-orang yang dapat menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) manusia..." (Ali 'Imran [3]: 134)
  •  "Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang (ciri-cirinya) dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya; bersikap lemah lembut, lembut terhadap orang-orang mukmin; berwibawa terhadap orang-orang kafir, berjihad dijalan Allah; dan tidak takut terhadap celaan orang-orang yang mencela..." (Al-Maidah [5]:54)
  •  "Yaitu mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya; Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambah imannya dan (hanya) kepada Tuhannya mereka menyerahkan diri. Juga mereka yang mendirikan sholat, dan menginfakkan sebahagian dari rizki yang Kami berikan kepadanya". (Al-Anfaal [8]:2-3)
  •  "Yaitu orang-orang yang khusyuk dalam sholatnya;dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang sia-sia; dan orang-orang yang menunaikan zakat; dan orang-orang menjaga kemaluannya; dan orang-orang yang memelihara amanah dan janjinya; dan orang-orang yang memelihara sholatnya." (Al-Ma'aarij [70]:22-34).







Pada Lailatul Qadar, dimana dahulu pada saat itu Al-Qur’an diturunkan merupakan malam yang paling mulia. Seperti telah disebutkan sebelumnya, bahwa Lailatul Qadar merupakan malam yang lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu, segala do'a dapat dikabulkan oleh Allah SWT, segala Dosa dapat diampuni oleh Allah SWT. Seorang muslim tentulah sangat mengharapkan dapat menjumpai malam yang istimewa ini walaupun sekali dalam hidupnya. 

Oleh karena itu, marilah kita sejenak merenung.........Apakah kita sudah layak menjadi pilihan-Nya dalam mendapatkan berkah-Nya malam Lailatul Qadar.......?? 
Semoga.......sejak awal shaum kita sudah mulai berusaha agar menjadikan salah seorang pilihan Allah SWT dalam mendapatkan keberkahan malam Lailatul Qadar....... 

Akhirnya pada kesempatan ini......Penulis mengucapkan  "Selamat menjalankan ibadah Shaum", semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT. dan tentunya dalam kelompok orang-orang yang diberikan keberkahan malam Lailatul Qadar...... amin....

Salam Ukhuwah



Photobucket





Senin, 17 Januari 2011

Sudahkah kita menjadi orang yang ber "Ilmu".......?







Terkadang atau sering dalam hidup, kita berusaha memaafkan tindakan kita atau kata lainnya melegalisasikan perbuatan kita. Maksudnya, kita mengatakan perbuatan kita benar dengan dalih yang berusaha kita cari kebenarannya. Sebagai contoh, ketika kita menunda melaksanakan sholat ketika adzan berkumandang, maka kita berdalih “Saya harus menyelesaikan tugas, bukankah kerja juga ibadah....?” atau  “Saya harus mengasuh anak dulu, bukankah ini juga ibadah?” dan lain sebagainya sehingga begitu pintarnya kita mendapatkan alasan yang seolah alasan kitalah yang paling benar. Atau cerita lain seperti seorang pencopet atau pelacur yang melegalkan usahanya demi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya dengan alasan mencari nafkah merupakan ibadah...!?

Akhir-akhir ini saya banyak menemui fenomena, yang membuat saya berasumsi bahwa kadang seseorang tidak faham ilmu yang sedang dipelajarinya. Untuk apa ilmu itu digunakan? Akan bagaimana bila mengamalkan ilmu itu? Fenomena klasik, tapi tetap membuat saya tidak habis fikir.



Belajar, mencari ilmu kadang di jadikan formalitas belaka. Karena prestise, harga diri, atau bahkan desakan dari pihak orang lain, orang tua, suami, istri, atasan di kantor, misalnya. Pada akhirnya ilmu tidak mengkristal di dalam diri. Tidak meninggalkan bekas. Bahkan mungkin,  tidak menjadikan diri lebih baik. Terdengar skeptis? Ya, bisa jadi.

Ilmu kadang hanya di ukur dari gelar-gelar yang berderet panjang pada nama. Di ukur dari jumlah koleksi buku. Di ukur dari jumlah biaya yang dikeluarkan. Diukur dari image sebuah kampus. Entah apakah bisa ilmu itu di jadikan manfaat , bahkan pada dirinya sendiri. Masih bisa di hitung dengan jari orang-orang yang benar-benar konsekuen dan bertanggung jawab dengan ilmu yang di  milikinya. 




Orang yang berilmu memang sangat kelihatan berbeda dengan dengan orang yang beruang, orang kaya tanpa disertai ilmu hanya akan disegani sejenak, tapi orang kaya disertai ilmu akan terus disegani meskipun kekayaannya habis, karena ilmunya telah menghiasi perbuatannya serta tingkahlakunya.

Ilmu berbeda dengan Pengetahuan. Orang yang berilmu adalah orang yang mengaplikasikan ilmu yang ia dapatkan dalam kehidupannya. sedangkan orang yang berpengetahuan hanya akan memiliki pengetahuan tentang keilmuan tanpa adanya tindakan sehingga ilmu yang ia miliki tidak tercermin dalam tingkah lakunya.

Dari penomena di atas sepintas orang sudah memperoleh "Ilmu", tapi hakikatnya baru memperoleh "Pengetahuan" saja 

Didalam melihat jalan hidup masyarakat di sekitar kita, bisa kita lihat bahwa beberapa orang mempunyai kecenderungan tertentu. Orang yang terbiasa berbuat maksiyat, maka dari hari kehari dia akan semakin terjerumus kedalam lembah yang hitam. Sebaliknya orang yang suka sholat berjamaah ke masjid, maka dia akan ramah ke tetangganya, rutin berinfaq dan bahagia kehidupan keluarganya.

Semakin seseorang memperbanyak dan membiasakan berbuat baik, maka semakin banyak terbuka pintu-pintu kebaikan yang lain. Hal ini sesuai dengan hadits qudsi diatas bahwa semakin tinggi intensitas dan kualitas ibadah kita kepada Allah SWT maka semakin dekatlah kita dengan-Nya.




Salah satu kunci kesuksesan hidup kita adalah bagaimana kita membiasakan berbuat baik. Semakin kita terbiasa berbuat baik, maka semakin mudah jalan kita untuk mencapai kebahagiaan hidup. Agar manusia terbiasa beribadah, maka beberapa ibadah dilakukan berulang dalam kurun waktu tertentu seperti sholat lima kali dalam sehari, puasa sunnah dua kali seminggu dan sholat jum’at sekali sepekan.

Permasalahan awal yang biasanya ditemukan dalam melakukan sesuatu yaitu dalam memulainya. Memulai suatu aktifitas terkadang lebih berat dibandingkan ketika melaksanakannya. Maka ketika kita mendorong mobil yang mogok, akan diperlukan tenaga yang besar saat sebelum mobil bergerak. Setelah mobil tersebut bergerak, diperlukan daya dorong yang kecil. Ada juga sifat kita yang menunda perbuatan baik, padahal perbuakan baik janganlah ditunda. Kalau kita ada keinginan untuk menunda, maka tundalah untuk menunda. Hal ini seperti yang disampaikan Rasulullah saw: 

“Bersegeralah untuk beramal, jangan menundanya hingga datang tujuh perkara. Apakah akan terus kamu tunda untuk beramal kecuali jika sudah datang: kemiskinan yang membuatmu lupa, kekayaan yang membuatmu berbuat melebihi batas, sakit yang merusakmu, usia lanjut yang membuatmu pikun, kematian yang tiba-tiba menjemputmu, dajjal, suatu perkara gaib terburuk yang ditunggu, saat kiamat, saat bencana yang lebih dahsyat dan siksanya yang amat pedih.” (HR. Tirmidzi)

Salah satu cara untuk mempermudah kita dalam memulai suatu amal ibadah adalah dengan mengetahui akan besarnya manfaat yang akan dirasakan. Segala hambatan atau godaan untuk tidak melaksanakan kebaikan tersebut akan bisa dilewatkan dengan keyakinan yang kuat. Oleh sebab itu, kita wajib untuk mencari ilmu tentang fadhilah (kelebihan) dari suatu amalan atau ibadah. Bahkan untuk menguatkan hati, kita juga perlu mencari ilmu secara berulang kali. Bahkan beberapa pengulangan dalam Al Quran digunakan agar manusia semakin ingat.





Jadi, mulailah perbuatan baik yang ingin anda lakukan sekarang dan jangan ditunda. Kalau belum yakin, perluas dan perdalam ilmu agar kita semakin yakin.
Ilmu, pada hakikatnya dapat merubah seseorang. Dari pola berfikir, sikap, hingga merubah diri orang tersebut.
Iman, Ilmu, Amal. Sebuah trilogi yang tidak dapat di pisahkan. Saling terkait.
Iman tanpa ilmu, sesat. Ilmu tanpa Amal, sesat. Amal tanpa ilmu, taklid.
menuntut ilmu adalah ibadah, memahaminya adalah wujud takut kepada Allah, mengkajinya adalah jihad, mengajarkannya adalah sedekah dan mengingatnya adalah tasbih. Dengan ilmu, manusia akan mengenal Allah dan menyembah-Nya. Dengan ilmu, mereka akan bertauhid dan memuja-Nya. Dengan ilmu, Allah meninggikan derajat segolongan manusia atas lainnya dan menjadikan mereka pelopor peradaban.
 
Oleh karena itu, sebelum menuntut ilmu, Imam al-Ghazali mengarahkan agar para pencari ilmu membersihkan jiwanya dari akhlak tercela. Sebab ilmu merupakan ibadah kalbu dan salah satu bentuk pendekatan batin kepada Allah. Sebagaimana shalat itu tidak sah kecuali dengan membersihkan diri dari hadas dan kotoran, demikian juga ibadah batin dan pembangunan kalbu dengan ilmu, akan selalu gagal jika berbagai perilaku buruk dan akhlak tercela tidak dibersihkan. Sebab kalbu yang sehat akan menjamin keselamatan manusia, sedangkan kalbu yang sakit akan menjerumuskannya pada kehancuran yang abadi. Penyakit kalbu diawali dengan ketidaktahuan tentang Sang Khalik (al-jahlu billah), dan bertambah parah dengan mengikuti hawa nafsu. Sedangkan kalbu yang sehat diawali dengan mengenal Allah (ma'rifatullah), dan vitaminnya adalah mengendalikan nafsu. (lihat al-munqidz min al-dhalal)
Sebagai amalan ibadah, maka mencari ilmu harus didasari niat yang benar dan ditujukan untuk memperoleh manfaat di akherat. Sebab niat yang salah akan menyeret kedalam neraka, Rasulullah saw., bersabda: "Janganlah kamu mempelajari ilmu untuk tujuan berkompetisi dan menyaingi ulama, mengolok-olok orang yang bodoh dan mendapatkan simpati manusia. Barang siapa berbuat demikian, sungguh mereka kelak berada di neraka. (HR. Ibnu Majah)
Diawali dengan niat yang benar, maka bertambahlah kualitas hidayah Allah pada diri para ilmuwan. "Barang siapa bertambah ilmunya, tapi tidak bertambah hidayahnya, niscaya ia hanya semakin jauh dari Allah", demikian nasehat kaum bijak. Maka saat ditanya tentang fenomena kaum intelektual dan fuqaha yang berakhlak buruk, Imam al-Ghazali berkata: "Jika Anda mengenal tingkatan ilmu dan mengetahui hakekat ilmu akherat, niscaya Anda akan paham bahwa yang sebenarnya menyebabkan ulama menyibukkan diri dengan ilmu itu bukan semata-mata karena mereka butuh ilmu itu, tapi karena mereka membutuhkannya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah". 
  Selanjutnya beliau menjelaskan makna nasehat kaum bijak pandai bahwa 'kami mempelajari ilmu bukan karena Allah, maka ilmu itu pun enggan kecuali harus diniatkan untuk Allah', berarti bahwa "Ilmu itu tidak mau membuka hakekat dirinya pada kami, namun yang sampai kepada kami hanyalah lafaz-lafaznya dan definisinya". (Ihya' 'Ulumiddin)
Ringkasnya, Imam al-Ghazali menekankan bahwa ilmu saja tanpa diterapkan adalah junun (gila) dan penerapan apapun tanpa ilmu adalah takabbur (sombong). Junun berarti berjuang berdasarkan tujuan yang salah. Sedangkan takabbur berarti tanpa memperdulikan aturan dan kaedahnya, meskipun tujuannya benar. Maka dalam pendidikan Islam, keimanan harus ditanamkan dengan ilmu; ilmu harus berdimensi iman; dan amal mesti berdasarkan ilmu. Inilah sejatinya konsep integritas pendidikan dalam Islam yang berbasis ta'dib. Ta'dib berarti proses pembentukan adab pada diri peserta didik. Maka dengan konsep pendidikan seperti ini, akan menghasilkan pelajar yang beradab, baik pada dirinya sendiri, lingkungannya, gurunya maupun pada Penciptanya. Sehingga terjadi korelasi antara aktivitas pendidikan, orientasi dan tujuannya.
Ketika seseorang mempelajari ilmu-ilmu kedokteran, kelautan, tehnik, komputer dan ilmu-ilmu fardhu kifayah lainnya, maka mereka tidak memfokuskan niatnya pada nilai-nilai ekonomi, sosial, budaya, politik, atau tujuan pragmatis sesaat lainnya. Tapi kesemuanya ini dipelajarinya dalam rangka meningkatkan keimanan dan bermuara pada pengabdian pada Sang Pencipta.
 
 
Akhirnya semoga kita dapat menjadi orang berilmu dan bermanfaat. karena dengan ilmu terangkatlah derajat dan dengan pengabdian menjadilah orang bermanfaat.